Tentang Saya

Foto saya
Berdo'a dan bekerja keras....!!! Insya Allah cita-cita kita tercapai.

Minggu, 17 Januari 2010

Pengertian Mengenai Petrolium (Migas)


Petroleum = petra + oleum (bahasa latin)
“Hidrokarbon yang tersimpan dalam batuan sedimen di kerak bumi dalam bentuk gas, cair, atau padat. Campuran gas dan cair merupakan bentuk yang paling umum”


Dari segi kimiawi, petroleum merupakan: Campuran senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat kompleks, biasanya disertai sedikit pengotor/ sampingan seperti n2, o2, s, dan logam.


Sumber: Diktat Pengantar Teknik Perminyakan I, Akamigas Balongan
Read more...

Eksplorasi secara Geofisika


Metode geofisika banyak berhubungan dengan komposisi dan sifat-sifat fisik batuan. Metode yang umum digunakan, yaitu :


1. Survey Magnetik
Dasar filosofi dari metoda ini adalah bahwa bumi mempunyai medan magnet yang kuat. Magnetometer adalah alat untuk mengukur magnetisasi dari batuan, yang umumnya dibawa dengan pesawat terbang untuk mengukur medan magnet suatu daerah dengan relatif singkat. Dengan cara ini daerah yang sulit didatangi, seperti rawa dan gurun pasir akan lebih mudah untuk diselidiki.
Magnetometer merekam perbedaan relatif antara magnetisasi bermacam batuan terhadap medan magnet bumi. Batuan yang banyak mengandung mineral magnetit seperti batuan beku, sulit sekali untuk mengandung hidrokarbon, sedangkan batuan sedimen yang kurang magnetis, lebih besar kemungkinan untuk mengandung minyak dan gas bumi.


2. Survei Gravitasi
Para ahli geofisik juga memanfaatkan medan gravitasi bumi yang bervariasi tergantung dengan distribusi massa dekat permukaan bumi.
Secara umum dapat diterangkan bahwa batuan yang berbeda densitasnya akan menghasilkan besaran gravitasi yang berbeda pula. Jika suatu batuan dengan densitas tinggi terletak dekat dengan permukaan bumi maka akan direkam besaran gravitasinya yang relatif tinggi pada sebuah gravimeter.


3. Survei Seismik
Suatu survei seismik umumnya merupakan akhir dari langkah eksplorasi sebelum suatu lokasi sumur pengeboran ditentukan. Berbeda dengan survei yang sebelumnya, survei seismik menyuguhkan gambaran struktur dan stratigrafi batuan yang lengkap dibawah permukaan tanah. Data bawah permukaan diterima oleh seismometer yang merekamnya pada seismograph, yang selanjutnya menghasilkan seismogram.
Seismogram inilah yang digunakan untuk membuat seismic section, yang merupakan penampang lintang dari keadaan bawah tanah.
Pada survei seismik, lubang-lubang (shot point) dengan jarak sama dibuat dan diisi dengan bahan peledak. Gelombang seismik yang timbul karena ledakan akan dipantulkan oleh batuan bawah permukaan tanah dan diterima oleh detektor yang peka (geophone) dari seismometer.


Sumber: Diktat Pengantar Teknik Perminyakan I, Akamigas Balongan



Read more...

Eksplorasi Geologi



Berdasarkan cara dari pengambilan datanya, eksplorasi geologi dapat dibagi dua, yaitu:


1. Pengindraan jauh, yaitu studi mengenai bumi dengan memanfaatkan radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau diserap oleh permukaan bumi dengan panjang gelombang dari ultra violet. Pengindraan jauh dibagi menjadi empat macam yaitu :
Aerial Photograpy (foto udara), Landsat Imagery (teknik satelit landsat), Thermal Infrared Imagery dan Radar Imagery.



2. Pemetaan geologi, merupakan metode tertua dalam eksplorasi geologi untuk mencari hidrokarbon dengan mengamati rembesan minyak yang tampak di permukaan bumi yang bersal dari struktur/perangkap dibawah tanah dan naik keatas melalui celah/rekahan yang terjadi diatas struktur tersebut.


Sumber: Diktat Pengantar Teknik Perminyakan I, Akamigas Balongan

Read more...

KAJIAN BIOMARKA ASAM KARBOKSILAT MINYAK MENTAH SEBAGAI INDIKATOR BIODEGRADASI


Biodegradasi minyak menyebabkan penurunan kualitas minyak mentah dan nilai ekonomisnya. Minyak biodegradasi menimbulkan berbagai masalah dalam proses pengolahanya, diantaranya adalah korosi. Biodegradasi minyak dapat diketahui melalui identifikasi biomarka (fosil molekul). Biomarka asam karboksilat dapat digunakan sebagai indikator biodegradasi minyak dan memberikan informasi asal usul bahan organik penyusunnya. Sampel minyak mentah laut Jawa mengandung biomarka asam n-alkanoat C12-C20 dengan kelimpahan yang kecil, mengindikasikan bahwa sampel minyak tidak mengalami biodegradasi. Sedangkan sampel minyak mentah Gunung Anyar mengandung biomarka asam n-alkanoat C11-C30, dimana kelimpahan asam n-alkanoat rantai panjang (>C20) mengindikasikan minyak tersebut telah mengalami biodegradasi. Kelimpahan asam n-alkanoat tak jenuh C16:1 dan C18:1 menunjukan tingkat kematangan material organik yang rendah, serta adanya kontribusi dari bakteri dan alga, sedangkan asam n-alkanoat rantai panjang menunjukan kontribusi tumbuhan tingkat tinggi dalam minyak tersebut. Selain itu kelimpahan asam karboksilat siklik (asam naftenoat) sebagai UCM (unresolved complex mixture) yang cukup besar dan adanya asam sikloheksil-alkanoat sebagai penyusun memberan bakteri Alicyclobacillus spp dalam minyak Gunung Anyar memperkuat dugaan bahwa minyak tersebut mengalami biodegradasi. Sedangan keberadaan asam karboksilat di dalam sampel minyak lau Jawa diperkirakan berasal dari reservoir minyak tersebut dan bukan hasil biodegradasi.


Read more...

Macam-macam Rig


Umumnya, rig dikategorikan menjadi dua macam menurut tempat beroperasinya:

1. Rig darat (land-rig): beroperasi di darat.
2. Rig laut (offshore-rig): beroperasi di atas permukaan air (laut, sungai, rawa-rawa, danau atau delta sungai).
Ada bermacam-macam offshore-rig yang digolongkan berdasarkan kedalaman air:

a. Swamp barge: kedalaman air maksimal 7m saja. Sangat umum dipakai di daerah rawa-rawa atau delta sungai.

b. Tender barge: mirip swamp barge tetapi di pakai di perairan yang lebih dalam.

c. Jackup rig: platform yang dapat mengapung dan mempunyai tiga atau empat “kaki” yang dapat dinaik-turunkan. Untuk dapat dioperasikan, semua kakinya harus diturunkan sampai menginjak dasar laut. Terus badan rig akan diangkat sampai di atas permukaan air sehingga bentuknya menjadi semacam platform tetap. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semua kakinya haruslah dinaikan terlebih dahulu sehingga badan rig mengapung di atas permukaan air. Lalu rig ini ditarik menggunakan beberapa kapal tarik ke lokasi yang dituju. Kedalaman operasi rig jackup adalah dari 5m sampai 200m.

d. Drilling jacket: platform struktur baja, umumnya berukuran kecil dan cocok dipakai di laut tenang dan dangkal. Sering dikombinasikan dengan rig jackup atau tender barge.

e. Semi-submersible rig: sering hanya disebut “semis” merupakan rig jenis mengapung. Rig ini “diikat” ke dasar laut menggunakan tali mooring dan jangkar agar posisinya tetap di permukaan. Dengan menggunakan thruster, yaitu semacam baling-baling di sekelilingnya, rig semis mampu mengatur posisinya secara dinamis. Rig semis sering digunakan jika lautnya terlalu dalam untuk rig jackup. Karena karakternya yang sangat stabil, rig ini juga popular dipakai di daerah laut berombak besar dan bercuaca buruk.

f. Drill ship: prinsipnya menaruh rig di atas sebuah kapal laut. Sangat cocok dipakai di daerah laut dalam. Posisi kapal dikontrol oleh sistem thrusterberpengendali komputer. Dapat bergerak sendiri dan daya muatnya yang paling banyak membuatnya sering dipakai di daerah terpencil atau jauh dari darat.


Read more...

Fungsi Rig


Dari fungsinya, rig dapat digolongkan menjadi dua macam.

1. Drilling rig: rig yang dipakai untuk membor sumur, baik sumur baru, cabang sumur baru maupun memperdalam sumur lama.
2. Workover rig: fungsinya untuk melakukan sesuatu terhadap sumur yang telah ada, misalnya untuk perawatan, perbaikan, penutupan, dsb.


Read more...

Komponen Rig


Apa saja komponen rig ?

Komponen rig dapat digolongkan menjadi lima bagian besar :


1. Hoisting system: fungsi utamanya menurunkan dan menaikkan tubular (pipa pemboran, peralatan completion atau pipa produksi) masuk-keluar lubang sumur. Menara rig (mast atau derrick) termasuk dalam sistem ini.


2. Rotary system: berfungsi untuk memutarkan pipa-pipa tersebut di dalam sumur. Pada pemboran konvensional, pipa pemboran (drill strings) memutar mata-bor(drill bit) untuk menggali sumur.


3. Circulation system : untuk mensirkulasikan fluida pemboran keluar masuk sumur dan menjaga agar properti lumpur seperti yang diinginkan. Sistem ini meliputi (1) pompa tekanan tinggi untuk memompakan lumpur keluar masuk-sumur dan pompa tekanan rendah untuk mensirkulasikannya di permukaan, (2) peralatan untuk mengkondisikan lumpur: shale shaker berfungsi untuk memisahkan solid hasil pemboran (cutting) dari lumpur; desander untuk memisahkan pasir; degasser untuk mengeluarkan gas, desilter untuk memisahkan partikel solid berukuran kecil, dsb.


4.. Blowout prevention system: peralatan untuk mencegah blowout (meledaknya sumur di permukaan akibat tekanan tinggi dari dalam sumur). Yang utama adalah BOP (Blow Out preventer) yang tersusun atas berbagai katup (valve) dan dipasang di kepala sumur (wellhead).

5. Power system : yaitu sumber tenaga untuk menggerakan semua sistem di atas dan juga untuk suplai listrik. Sebagai sumber tenaga, biasanya digunakan mesin diesel berkapasitas besar.


Read more...