Tentang Saya

Foto saya
Berdo'a dan bekerja keras....!!! Insya Allah cita-cita kita tercapai.
Tampilkan postingan dengan label Peng. Teknik Perminyakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peng. Teknik Perminyakan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2010

Kegiatan Pokok Industri Migas








Kegiatan Up-stream: yaitu kegiatan eksplorasi produksi (EP) yang meliputi :
- geodesi
- geofisika
- geologi
- pemboran
- reservoir
- produksi
- EOR

Kegiatan Down-stream: yaitu kegiatan proses dan pemasaran (PA) yang meliputi :
npengolahan/pemurnian
- pemasaran
- petrokimia
- penyimpanan
- transportasi




Sumber: Diktat Pengantar Teknik Perminyakan I, Akamigas Balongan Read more...

Minggu, 17 Januari 2010

Teori Organik/Biogenesa


Teori organik adalah teori yang mempercayai bahwa minyak bumi berasal dari jasad organik dan tumbuhan. P.G. Macquir (1758) adalah Sarjana dari Perancis yang pertama kali menyatakan pendapat bahwa minyak bumi berasal dari tumbuh-tumbuhan dan kemudian pendapat ini didukung oleh ahli-ahli lainnya.
Tumbuhan/hewan laut-Terutama Plankton-mati-teronggok di dasar laut-tertimbun sedimen halus-terawetkan-fosil-proses ini berlangsung terus-menerus.

Menurut Teori Organik, proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga fase :
1. Pembentukannya sendiri yang terdiri dari :
- Pengumpulan zat organik didalam sedimen
- Pengawetan zat organik di dalam sedimen
- Transformasi zat organik menjadi minyak bumi.
2. Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam batuan sedimen ke perangkap dimana minyak terdapat.
3. Akumulasi minyak bumi yang terdapat pada lapisan sedimen sehingga terkumpul dan menjadi akumulasi yang komersil.

Sumber: Diktat Pengantar Teknik Perminyakan I, Akamigas Balongan
Read more...

Pengertian Mengenai Petrolium (Migas)


Petroleum = petra + oleum (bahasa latin)
“Hidrokarbon yang tersimpan dalam batuan sedimen di kerak bumi dalam bentuk gas, cair, atau padat. Campuran gas dan cair merupakan bentuk yang paling umum”


Dari segi kimiawi, petroleum merupakan: Campuran senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat kompleks, biasanya disertai sedikit pengotor/ sampingan seperti n2, o2, s, dan logam.


Sumber: Diktat Pengantar Teknik Perminyakan I, Akamigas Balongan
Read more...

Minggu, 10 Januari 2010

Bahan Bakar Fosil


Bahan bakar fosil atau bahan bakar mineral, adalah sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, petroleum, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah menggerakan pengembangan industri dan menggantikan kincir angin, tenaga air, dan juga pembakaran kayu atau peat untuk panas.
Ketika menghasilkan listrik, energi dari pembakaran bahan bakar fosil seringkali digunakan untuk menggerakkan turbin. Generator tua seringkali menggunakan uap yang dihasilkan dari pembakaran untuk memutar turbin, tetapi di pembangkit listrik baru gas dari pembakaran digunakan untuk memutar turbin gas secara langsung.
Pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama dari karbon dioksida yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang dipercayai menyebabkan pemanasan global. Sejumlah kecil bahan bakar hidrokarbon adalah bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena itu tidak menambah karbon dioksida di udara.


Read more...

Daftar Ladang Minyak di Indonesia


Jumlah cadangan minyak yang tertera dinyatakan dalam satuan barrel.

Sumatra
1. Rantau, Aceh
2. Lepas pantai Langsa, Aceh
3. Duri, Riau
4. Dumai, Riau
5. Minas, Riau (~10 milyar, gabungan dari ladang minyak Duri, Dumai, dan Minas)
6. Kotabatak, Riau
7. Bekasap, Riau
8. Zamrud, Riau
9. Petani, Riau
10. Ampuh, Riau
11. Petapahan, Riau
12. Pedada, Riau
13. Balam, Riau
14. Bangko, Riau
15. Tg. Jabung, Jambi (berpotensi memiliki jutaan)
16. Ramba, Sumatra Selatan
17. Suban, Sumatra Selatan

Jawa dan Bali
1. Lepas pantai sebelah utara Jawa Barat
2. Tambun,Bekasi, Jawa Barat (13 juta)
4. Cilamaya, Karawang, Jawa Barat
5. Subang, Jawa Barat
6. Jatibarang,Jawa barat
7. Lepas pantai Laut Jawa, Jawa barat
8. Lepas pantai Kepulauan Seribu, Jakarta
9. Cepu, Jawa Tengah (600 juta – 1,4 miliar barel)


Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua
1. Badak, Kalimantan Timur
2. Delta Mahakam, Kalimantan Timur
3. Lepas pantai Selat Makasar
4. Banggai, Sulawesi Tengah (20 juta)
5. Donggi, Sulawesi Tengah (70 juta)
6. Tiaka, Sulawesi Tengah (110 juta)
7. Salawati, Papua (83 juta)


Read more...

Negara Penghasil Minyak Bumi Terbesar


(Diurutkan berdasar jumlah produksi tahun 2006) dan total produksi1nya dalam juta barrel per hari
Arab Saudi - 10,665
Rusia - 9,667
Amerika Serikat2 - 8,331
Iran - 4,148
Republik Rakyat Cina - 3,858
Meksiko - 3,707
Kanada - 3,288
Uni Emirat Arab - 3,0
Venezuela - 2,803
Norwegia - 2,786
Kuwait - 2,675
Nigeria - 2,443
Brasil - 2,166
Aljazair - 2,122
Irak - 2,008
Read more...

Pengertian Minyak Bumi


Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.


Read more...

Jumat, 08 Januari 2010

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi


OPEC (singkatan dari Organization of the Petroleum Exporting Countries; bahasa Indonesia: Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi) adalah organisasi yang bertujuan menegosiasikan masalah-masalah mengenai produksi, harga dan hak konsesi minyak bumi dengan perusahaan-perusahaan minyak.
OPEC didirikan pada 14 September 1960 di Bagdad, Irak. Saat itu anggotanya hanya lima negara. Sejak tahun 1965 markasnya bertempat di Wina, Austria.
Anggota
Afrika
Aljazair (1969)
Angola (1 Januari 2007)
Libya (Desember 1962)
Nigeria (Juli 1971)
Asia
Arab Saudi (negara pendiri, September 1960)
Iran (negara pendiri, September 1960)
Irak (negara pendiri, September 1960)
Kuwait (negara pendiri, September 1960)
Qatar (Desember 1961)
Uni Emirat Arab (November 1967)
Amerika Selatan
Ekuador (1973-1993, kembali menjadi anggota sejak tahun 2007)
Venezuela (negara pendiri, September 1960)
Anggota yang keluar
Gabon (keanggotaan penuh dari 1975-1995)
Indonesia (anggota dari Desember 1962-Mei 2008)
Pada Mei 2008, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan surat untuk keluar dari OPEC pada akhir 2008 mengingat Indonesia kini telah menjadi importir minyak (sejak 2003) atau net importer dan tidak mampu memenuhi kuota produksi yang telah ditetapkan.
Kemungkinan jadi anggota
Suriah, Sudan, dan Bolivia (ketiga negara ini sudah diundang oleh OPEC untuk bergabung)
Brazil (Ingin bergabung setelah ditemukan cadangan minyak yang besar di Atlantik)
Read more...

Pertamina dan Sonangol Sepakat Laksanakan Joint Study


Jajaki Peluang Kerjasama Pengelolaan Ladang Migas di Angola

Pertamina dan Sonangol (NOC dari Angola) sepakat akan mengadakan joint study bersama dari sejumlah lapangan migas yang terdapat di Angola baik onshore maupun offshore. Dan nanti hasil joint study tersebut akan menjadi dasar mana saja lapangan yang dapat dikelola secara bersama", demikian dikemukakan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan setelah mengadakan pertemuan dengan Chairman & CEO Sonangol Manuel Vicente disela-sela pertemuan tingkat menteri Negara-negara OPEC yang berlangsung 22 Desember 2009 di Luanda, Angola.Dengan produksi minyak yang mencapai 1,9 juta barrel per hari, Angola diprediksikan akan mampu memproduksi hingga diatas 2 juta barrel dalam 3 tahun mendatang. Hingga kini, sejumlah IOC seperti Total, Chevron, BP, ENI serta NOC lainnya seperti Petrobras dan Statoil sudah menjalin kerjasama dalam pengelolaan migas di Angola.Dalam rangka menjajaki kesempatan kerjasama dan guna mendukung rencana peningkatan produksi migas Pertamina di masa datang, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) selama menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) ke-155 di Luanda, Angola juga turut mendampingi Menteri ESDM Darwin Z. Saleh dalam sejumlah pertemuan bilateral dengan menteri-menteri energy dari Angola, Qatar, Irak, dan Libya. Khusus dengan Angola juga dijajaki kerjasama peningkatan kapasitas tenaga perminyakan Angola melalui joint study dan pelatihan di Indonesia. Sedangkan dengan pihak Qatar, kedua menteri juga telah sepakat untuk melakukan kerjasama untuk mensuplai dan memasok Elpiji dan LNG ke Indonesia melalui Pertamina. Produk Elpiji dari Qatar tersebut akan digunakan untuk menambah pemenuhan kebutuhan nasional terkait program konversi minyak tanah ke elpiji sedangkan produk LNG akan dipakai pada FSRU dalam hal pememuhan bahan baku listrik dan dapat pula dijajaki untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri terutama ekspansi pabrik pupuk domestic.Kehadiran Indonesia dalam pertemuan tingkat menteri Negara-neagara OPEC ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk tetap menjalin persahabatan dengan negara-negara anggota OPEC. Meskipun Indonesia sudah tidak lagi merupakan anggota penuh, Indonesia menghargai upaya OPEC untuk menjaga stabilitas pasar minyak dunia, bahkan Indonesia akan mendukung upaya OPEC dengan menjembatani antara kepentingan OPEC dan aspirasi konsumen, khususnya negara-negara berkembang.


Read more...

Profil KMI (Komunitas Migas Indonesia)


Organisasi Profesi KMI
KMI sebagai sebuah organisasi profesi multi disiplin selalu berpedoman pada nilai, visi dan misi serta strategi untuk mencapai tujuannya seperti yang telah ditetapkan dalam AD/ART organisasi. Nilai, visi dan misi serta strategi inilah yang dipakai sebagai acuan untuk kemudian diterjemahkan dalam setiap aktivitas dan kegiatan yang diadakan oleh organisasi ini.

KMI adalah organisasi yang memiliki sifat :

Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Tidak mencari keuntungan belaka.
Tidak menjalankan politik praktis.
Tidak diskriminatif.
Beragam bidang keahlian.
Mandiri, bebas lepas dari keterikatan dengan organisasi lain.
Nilai Komunitas Migas Indonesia

Dalam melaksanakan kegiatannya, Komunitas Migas Indonesia beserta anggotanya menjunjung tinggi dan melipat-gandakan nilai-nilai berikut :

Kejujuran
Keterbukaan
Kesadaran
Kesetaraan
Kemandirian
Keahlian
Kerja sama

Visi Komunitas Migas Indonesia

Organisasi profesional multi disiplin yang mandiri, berperan aktif dalam menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan, jujur dan ramah lingkungan.
Organisasi profesional multi disiplin yang lebih meningkatkan kompetensi sumber daya manusia Indonesia guna memenangkan persaingan global.

Misi Komunitas Migas Indonesia

Melakukan pendekatan profesional multi disiplin, jujur dan beretika dalam mencari solusi terbaik.
Berupaya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara sistematis dan konsisten dalam setiap aspek kegiatannya.

Strategi Komunitas Migas Indonesia

Membangun jaringan komunikasi profesional multi disiplin melalui media virtual.
Memberi peluang yang besar kepada para profesional untuk bergabung dalam organisasi Komunitas Migas Indonesia (KMI).
Mengembangkan diskusi ilmiah diantara anggota dengan penuh keterbukaan, konsisten, jujur dan beretika untuk mencapai konsensus yang terbaik.
Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ilmiah secara rutin dan berkesinambungan.
Membina hubungan sinergi dengan institusi / organisasi yang berhubungan atas dasar profesionalisme yang saling menguntungkan.
Mendapatkan pengakuan secara profesional dari institusi yang berhubungan guna memperkuat kehadiran organisasi Komunitas Migas Indonesia (KMI).
Mendayagunakan sumber daya serta menggali potensi yang dimiliki oleh organisasi Komunitas Migas Indonesia (KMI) dan anggota untuk mewujudkan kepentingan nasional, organisasi dan anggota.
Mengembangkan Komunitas Migas Indonesia (KMI) sebagai wadah profesional yang kuat guna menghasilkan suatu standar-standar atau kesepakatan baru dalam kaitannya dengan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas serta panas bumi, serta industri petrokimia dan industri pendukung lainnya.
Membantu dan mengembangkan pendidikan dan turut serta dalam proses mencetak kader-kader masa depan, khususnya di industri migas, petrokimia dan industri pendukung lainnya.

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Organisasi Profesi KMI

KMI Goes to Campus : UNMUL 13 Desember 2003, KMI Kaltim.
Seminar K3 - 31 Januari 2004, KMI Kaltim & UNIBA.
KMI Goes to Campus : PetroGas Day - 28 Februari 2004, KMI Jakarta & UI.
KMI Goes to Campus : Politeknik Batam - 5 Maret 2004, KMI Batam.
Studium Generale II - 13 Maret 2004, KMI Jabar & ITB.
Reliability for Indonesia's Manufacturers and Process Plants, 27 - 28 Maret 2004, KMI Banten & SMRP USA.
KMI Goes to Campus : Universitas Internasional Batam - 16 April 2004, KMI Batam.
KMI Goes to Campus : Universitas Batam - 4 Mei 2004, KMI Batam.
KMI Goes to Campus : POLNES & UNMUL - 8 Mei 2004, KMI Kaltim.
American Association of Petroleum Geologist - 25 Mei 2004, KMI Sulsel.
KMI Goes to Campus : Process & Technology of Oil & Gas Industry - 26 Juni 2004, KMI Jabotabek & Trisakti.
Seminar HSE "Process Safety Management Improvement", 2-3 September 2004, KMI Banten & AMC Chemical Manufacturer Association SHE-MAN.
Partisipasi untuk melakukan kaji ulang RSNI.
Aksi Sosial : Banjir, Panti Asuhan, Anak Jalanan, Duka Cita, dsb.
Kerja sama antar Organisasi Profesi di Indonesia.


Read more...

Kamis, 07 Januari 2010

Kaltim Ambil Alih 3 Blok Migas Total Indonesie di 2017


Pemprov Kaltim berminat untuk mengambil alih pengelolaan 3 blok migas milik Total Indonesie E&P di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun 2017, dengan menggandeng Pertamina.


Read more...

Rabu, 06 Januari 2010

Masa Depan Sumber BBM Indonesia


Bahan bakar minyak (BBM) masih akan terus mendominasi keperluan energi Indonesia, yaitu sebesar 50 persen jenis energi final 37 persen untuk jenis energi primer, yang jumlahnya sekarang ini sudah lebih dari 1,2 juta barel per hari. Masih sulit mengganti peran minyak terutama untuk menghasilkan BBM bagi sektor transportasi.
Persediaan minyak mentah dan BBM memerlukan perhatian khusus karena sedang terjadi penguasaan sumber-sumber minyak dunia melalui akuisisi dan kontrak wilayah kerja baru oleh negara-negara besar. Hal tersebut membahayakan pasokan ke Indonesia terutama bila kapasitas produksi cadangan minyak dunia tidak cukup ditambah ketegangan politik yang bisa mengganggu negara produsen.
Cadangan terbukti minyak kita yang sebesar 4,3 miliar barel (data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi) kurang dari 0,5 persen cadangan terbukti minyak dunia yang sebesar 1.144 miliar barel.
Menurut OPEC Annual Statistical Bulletin 2004, selama 25 tahun terakhir cadangan minyak dunia telah naik sekitar 500 miliar barel atau 76 persen. Kenaikan itu pun hanya terfokus di negara-negara minyak Timur Tengah (Iran, Saudi Arabia, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab) yang saat ini memiliki lebih dari 65 persen cadangan dunia. Sebaliknya, di negara-negara non-OPEC (Amerika Serikat, Inggeris, Norwegia dsb kecuali Rusia dan Kazakhstan) terjadi penurunan.
Data ini menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah kawasan kaya minyak setara Timur Tengah. Kenyataan ini diperkuat oleh fakta bahwa meskipun kegiatan eksplorasi migas kita cukup gencar dalam era sebelum krisis ekonomi, minyak yang ditemukan hanya mampu menggantikan minyak yang terkuras, yang membuat cadangan minyak Indonesia dari waktu ke waktu boleh dikatakan hanya konstan. Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir malah terjadi penurunan cadangan dan produksi yang lebih cepat atau sekitar 5 persen, karena sudah mulai menemukan lapangan-lapangan besar selain menurunnya investasi sebagai dampak krisis ekonomi dan krisis politik.
Hikmah dari keadaan itu adalah kesadaran bahwa karunia kekayaan emas hitam itu seolah-olah memang diperuntukkan Tuhan kepada bangsa-bangsa di Timur Tengah. Sebetulnya karunia Tuhan untuk Indonesia adalah energi hijau, yang dihasilkan dari cahaya matahari, tanah dan air.
Sebetulnya minyak yang yang terkuras dari ladang-ladang minyak Indonesia baru 40 persen dari jumlah asalnya. Dengan cara menerapkan teknologi terbaru diperkirakan akan dapat dikuras minimal sampai 50 persen dan akan dapat memberikan tambahan cadangan terbukti menjadi dua kali dari yang sekarang ini. Teknologi eksplorasi dan produksi migas telah sangat berkembang dalam kurun waktu 1980-an dan pertengahan 1990-an.
Harga minyak sangat rendah pada saat itu (rata-rata 20 dolar AS per barel) telah mendorong upaya memangkas biaya melalui inovasi teknologi yang mampu menemukan minyak dengan biaya rendah. Sebagai keberhasilannya, biaya pencarian minyak di kawasan non-OPEC telah turun dari 25 dolar ke 5 dolar per barel. Biaya pengangkatan minyak juga turun dari 5,5 dolar menjadi 3,5 dolar. Teknologi yang ditemukan juga mampu mengungkapkan prospek-prospek minyak besar di frontier area seperti laut dalam sehingga membuat investasi di area ini menjadi menarik.
Sepanjang 1994-2004 pertumbuhan produksi dunia didominasi oleh produksi dari laut dalam dengan hampir 4 juta barel per hari, yang diperkirakan akan terus meningkat menjadi sekitar 8.5 juta barel per hari pada 2010.
Terobosan teknologi yang lebih baru banyak diterapkan untuk kawasan yang sudah tua, misalnya di Laut Utara dan Alaska. Produksi minyak Rusia bangkit lagi setelah jatuh drastis pada pasca- perestoroika berkat penerapan teknologi dan manajemen produksi yang termutakhir. Bagi kawasan yang belum sepenuhnya terjangkau oleh teknologi baru (termasuk Indonesia), teknologi baru tersebut berpeluang besar untuk pengembangan kembali lapangan-lapangan yang sudah ada secara menguntungkan, apalagi dalam suasana risiko investasi yang tinggi untuk pengembangan lapangan baru.
Berdasarkan informasi dari BP Migas, 90 persen lapangan di Indonesia sudah melewati puncak produksi. Sebanyak 69 persen dari 520 lapangan yang ada berstatus terdeplesi dan lebih dari 50 persen cadangan berada pada lapangan berukuran kecil. Lapangan-lapangan tua diperkirakan hanya mempunyai umur 7-8 tahun. Lapangan-lapangan marjinal yang jumlahnya cukup banyak menunggu untuk dieksploitasi. Produksi yang pernah mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari sepuluh tahun yang lalu sekarang tinggal 1 juta barel per hari.
Suatu kajian yang dilakukan IPA (Indonesian Petroleum Association) delapan tahun yang lalu meramalkan kondisi sekarang ini. Pemerintah saat itu mungkin sadar akan peringatan IPA tersebut tapi kemudian untuk melakukan strategi baru terhalang oleh krisis politik dan krisis ekonomi.
Langkah-langkah yang diambil pemerintah sekarang ini untuk meningkatkan cadangan dan produksi adalah mendekati investor untuk membuka wilayah kerja baru atau yang lama, memperbaiki sistem perpajakan, menawarkan bagi hasil yang menarik. Di samping itu insentif pemakaian teknologi baru serta pemanfaatan lapangan marjinal diharapkan dapat meningkatkan gairah kegiatan perminyakan Indonesia. Hasil dari perbaikan iklim investasi dan operasi ini tentu harus ditunggu dalam kurun waktu 4-7 tahun ke depan mengingat jadwal atau siklus kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas di hulu memang memerlukan waktu sedemikian. Karena itu dapat diduga bahwa pada 2006 produksi minyak Indonesia belum akan meningkat secara signifikan.
Tanpa upaya tersebut, produksi minyak Indonesia pada 2010 hanya 500 ribu barel per hari. Dengan upaya perbaikan iklim pengusahaan migas seperti disebutkan tadi, produksi pada tahun 2010 seperti diperkirakan BP Migas bisa naik menjadi 1.200-1.400 ribu barel per hari.
Dengan tingginya harga minyak maka dorongan investasi dan pengusahaan migas di hulu kelihatannya cukup besar. Penemuan cadangan besar di lapisan lebih dalam dari lapangan Cepu (Exxon Mobil), yang nota bene adalah lapangan tua, menebar harapan baru bagi investor lain untuk mendapat keuntungan yang serupa.
Empat potensi energi yang nampaknya akan digalakkan pemerintah adalah geotermal, batu bara, energi hijau dan nuklir, di samping gas dan energi baru dan terbarukan lainnya. Untuk energi transportasi di luar listrik, batu bara dan energi hijau atau biofuel adalah sumber yang cukup menjanjikan.
Pencarian batu bara sebagai sumber bahan bakar minyak sintetik dengan teknologi bersih mulai menarik pada situasi harga minyak yang tinggi ini. Kajian kelayakan oleh tekMIRA, BPPT,JCOAL, KOBELCO terhadap 3 jenis batu bara Indonesia jenis lignit (brown coal) memberikan harga jual BBM sintetik setara harga minyak mentah 23-29 dolar per barel. Ini investasi padat modal (5 miliar dolar untuk kapasitas produksi BBM 100 ribu barel per hari) yang memerlukan perlakuan khusus untuk melindungi investasi jangka panjang.
Batu bara Bangko, Sumatera Selatan dengan cadangan 2,5 miliar ton akan mampu memberikan 1 juta barel per hari BBM sintetik selama 30 tahun. Perlu dicatat bahwa cadangan terbukti batu bara Indonesia sebesar 6,9 miliar ton, terukur 12,4 miliar ton dan sumber daya 57,8 miliar ton memberikan optimisme bahwa batu bara adalah masa depan sumber BBM Indonesia.
Energi hijau adalah karunia Tuhan untuk bangsa ini, setara dengan minyak dan gas untuk bangsa-bangsa di Timur Tengah. Misalnya, satu hektare lahan dapat memberikan sekurang-kurangnya 8 ton atau 70 barel minyak kelapa sawit (CPO) per tahun. 20-30 persen komponen kelapa sawit berkategorikan bukan makanan dapat diarahkan sebagai pengganti BBM. Harga fraksi 300 dolar per ton setara dengan harga minyak 35 dolar per barel.
CPO berkualitas makanan dengan harga 400 dolar per ton, dapat diekspor sebagai pembayar impor BBM. Untuk menghasilkan 1 juta barel BBM, maka diperlukan 5 juta hektare lahan dan sekurang-kurangnya 1 juta tenaga kerja. Bayangkan bahwa sekarang terdapat 40 juta lahan kritis di Indonesia.
Read more...

Minggu, 03 Januari 2010

Peranan dan Manfaat Eksplorasi Hidrokarbon


Hidrokarbon merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai peranan dapat meningkatkan kemajuan Bangsa Indonesia khususnya pada eksplorasi MIGAS. Manfaat hidrokarbon sangatlah banyak sekali, tapi sayangnya juga banyak efek negatifnya. Kegiatan ekplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi merupakan kegiatan yang sangat penting di dalam dunia industri perminyakan, dimana umumnya setelah kegiatan eksplorasi dilaksanakan dan apabila ditemukan kandungan minyak bumi yang cukup komersial, maka kegiatan itu akan dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi minyak bumi tersebut. Namun kegiatan eksplorasi tidak berhenti melainkan terus berjalan seiring dengan kegiatan eksploitasi yang dilaksanakan dengan harapan dapat dilakukan pengembangan zona hidrokarbon yang lebih luas ataupun kearah yang lebih dalam pada sumur pemboran. Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi ini membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit jumlahnya.
Oleh sebab itu, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang akurasiya berkualitas tinggi. Disetiap survey bawah permukaan yang nantinya mampu memberikan gambaran-gambaran tentang keadaan dibawah permukaan daerah tersebut. Salah satu data yang dapat diperoleh pada saat kegiatan ini adalah data Well Logging, dimana data ini memberikan hasil rekaman dari kedalaman lapisan bawah permukaan, serta dapat membantu menggambarkan urutan litologi batuan pada setiap lubang bor. Data disajikan dalam bentuk kurva-kurva log yang dapat menggambarkan sifat dan karakteristik batuan yang berada di bawah permukaan (subsurface). Selain itu kurva-kurva ini juga dapat menginformasikan peranan dan manfaat jenis fluida yang terkandung pada batuan itu. Untuk memahami kurva-kurva tersebut, seorang geophysicsist dan geologist dituntut untuk dapat mengungkapkan keberadaan dari Hidrokarbon yang terkurung dibawah permukaan bumi.
Hingga kini belum ada penyelesaiaan lain selain mengebor suatu sumur untuk memastikan ada tidaknya kandungan hidrokarbon dibawah tanah, setiba di lapangan sumur, para operator logging meluruskan letak kendaraan logging segaris dengan sumbu sumur, menggelarkan kabel logging melalui roda katrol bawah dan atas, dan menyambungkan alat alat logging. Insinyur logging melakukan pemeriksaan dan kaliberasi permukaan, kemudian rangkaian logging alat logging diturunkan kedasar sumus secepat mungkin dengan pertimbangan kondisis sumur. Setelah sampai didasar sumur, kalibrasi alat sekali lagi dilakukan, skala skla pembacaan diatur, dan kabel logging mulai ditarik keluar, maka mulailah proses logging. Kecepatan survey diatur konstan antara 1800 s/d 6000ft/hr, tergantung jenis alat logging.
Pada saat mengadakan pemboran dan selama pemboran berlangsung, selalu melibatkan lumpur pemboran yang sering disebut sebagai mud drilling ,yang mempunyai tekanan hidrostatis lebih besar dari pada tekanan formasi pada kedalaman tertentu. Hal ini dipergunakan untuk Menstabilkan tekanan formasi yang ada di bawah permukaan, dimana tekanan lumpur yang ada di dalam annulus (Pm) harus dijaga agar selalu lebih besar dari tekanan hidrostatik cairan di dalam pori-pori formasi (Pr) guna menghindari terjadinya blow out. Blow out ini merupakan salah satu akibat tidak seimbangnya tekanan formasi dengan tekanan lumpur pemboran dimana tekanan formasi (Pr) lebih besar daripada tekanan lumpur pemboran (Pm), sehingga lumpur didesak kembali keluar oleh tekanan formasi yang menyebabkan terjadinya semburan dari dalam lubang bor. Sedangkan jika perbedaan tekanan Pm dan Pr dimana Pm lebih besar daripada Pr yang biasanya beberapa ratus psi, akan mendesak cairan pemboran ke dalam formasi, sehingga partikel-partikel padat lumpur tertahan pada formasi di dinding lubang pemboran dan membentuk kerak lumpur (mud cake) yang mengakibatkan diameter lubang bor lebih kecil daripada diameter sebenarnya (diameter pahat bor). Selain itu sebagai pelumas mata bor, peredam panas saat berlangsungnya pengeboran.
Cairan yang menembus mud cake yang biasanya disebut filtrasi lumpur (mud filtrate) ini, akan melewati formasi dan mendesak kembali cairan reservoir ke arah dalam formasi sehingga membentuk daerah-daerah yang berisi mud filtrate dan cairan reservoir yang dikenal dengan zona rembesan. Tingkat filtrasi lumpur ini dapat dibaca dari catatan air yang hilang (water loss) pada kepala log (log heading) dalam satuan cc. Kemudian Prinsip kerja metoda induksi ini adalah berupa sonde yang terdiri dari 2 set kumparan yang disusun dalam batangan fiberglass non konduktif. Dalam hukum fisika diketahui jika sebuah kumparan dialirkan arus listrik bolak-balik, maka akan timbul suatu arus dalam kumparan tersebut. Arus listrik yang mengalir dalam kumparan alat induksi ini menimbulkan medan magnet di sekelilong sonde yang menghasilkan arus Eddy (Eddy Current). Arus Eddy sendiri pada gilirannya akan menghasilkan medan magnet yang dapat dideteksi oleh kumparan penerima.
Besarnya kekuatan arus pada penerima ini akan sebanding dengan arus Eddy dan juga akan sebanding dengan induktivitas formasi. Pada dasarnya, peranan fungsi arus listrik dapat dengan mudah melewati formasi jika formasi tersebut mengandung fluida dan hidrokarbon yang bersifat konduktif dan memiliki manfaat besar. Apapun permasalahannya, penemuan sumber energi baru baik dari fosil maupun non-fosil dapat segera terselesaikan. Sehingga krisis energi di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya tidak berlarut-larut. Sehingga permasalahan ini tidak akan menghasilkan dampak krisis sosial yang negatif yang mana pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh segi bidang kehidupan termasuk dalam hal pembukaan lowongan cari kerja baru untuk masyarakat.


Read more...

Asal Usul Minyak


Saat ini, sejumlah besar ilmuwan secara umum berpendapat bahwa minyak bumi adalah makhluk hidup purbakala yang di bawah tekanan suhu tinggi dan setelah melalui proses pengolahan dalam jangka waktu yang panjang serta lamban, maka makhluk hidup zaman purbakala baru berubah menjadi minyak bumi. Namun, yang membuat para ilmuwan bingung adalah sebenarnya butuh berapa kali organisme prasejarah dalam skala besar terkumpul dan terkubur, baru bisa menghasilkan minyak bumi yang sedemikian banyak seperti sekarang ini? Masalah ini terjawab di majalah Scientist akhir November 2003. Penulis artikel tersebut yakni Jeffry S. Dukes dari Universitas Utah, melalui hasil hitungan dari data industri dan geokimia serta biologi yang ada sekarang: 1 galon minyak bumi Amerika, ternyata membutuhkan 90 ton tumbuhan purbakala sebagai bahan material, artinya 1 liter minyak bumi berasal dari 23,5 ton tumbuhan purbakala. Lalu berapa tumbuhan yang dapat mencapai 23,5 ton itu? Hasil hitungan didapati, bahwa itu setara dengan 16.200 meter persegi jumlah tanaman gandum, teremasuk daun, tangkai dan seluruh akarnya. Mengapa membutuhkan makhluk hidup purbakala dalam jumlah yang sedemikian besar baru bisa mengubahnya menjadi minyak bumi? Penyebabnya adalah bahwa minyak bumi harus di bawah tekanan suhu tinggi, dengan demikian baru bisa menghasilkan minyak bumi, lalu setelah makhluk hidup purbakala mati, jika penguburan tidak cepat, maka akan lapuk dan terurai. Namun, masalahnya adalah sebenarnya berapa besar rasio makhluk hidup purbakala berubah menjadi energi fosil? Penulis mengatakan: Kurang dari 1/10.000! Sebab sebagian besar karbon kembali ke atmosfer setelah melalui penguraian. Dan sejumlah kecil yang tersisa baru dapat berubah menjadi bahan bakar fosil. Selanjutnya penulis mengatakan: Berdasarkan hitungan jumlah pemakaian minyak bumi seluruh dunia tahun 1997, energi fosil yang dihabiskan seluruh dunia waktu itu setara dengan 400 kali lipat jumlah semua tumbuhan di atas bumi yang bisa menghasilkan minyak. Dilihat dari segi lainnya, data geologi menunjukkan, bahwa bumi pada zaman purbakala mutlak tidak mungkin lebih besar ukurannya dibanding bumi saat ini, lagi pula jumlah kandungan oksigen di udara dan suhu udara pada zaman purbakala kurang lebih 30% lebih tinggi dibanding bumi saat ini, atau dengan kata lain, kecepatan busuknya makhluk hidup lebih cepat dibanding sekarang. Seandainya minyak bumi berasal dari jasad makhluk hidup melalui sirkulasi karbon, maka meskipun bentuk tubuh makhluk hidup purbakala lebih besar, namun jika rasio penguburan lebih cepat dan skala besar malahan sangat rendah juga akan sangat sulit, ini adalah yang bisa diketahui dari fosil dinosaurus yang tidak sempurna dan tidak banyak jumlahnya, yang hanya dapat kita gali sekarang ini.
Read more...

Sabtu, 02 Januari 2010

Cadangan Minyak Indonesia


Cadangan Minyak Indonesia yang sudah terbukti (proven) adalah 4.7 Milliar barrel, sedangkan cadangan yang belum terbukti (atau masih bersifat potensial) adalah diperkirakan sebanyak 5 Milliar barrel, data untuk tahun 2003.
Tetapi dalam releasenya BP Migas tahun lalu, cadangan minyak kita mengalami penurunan secara alami dan sekarang berada pada level yang terbukti sebanyak 4.3 Milliar barrel dan yang potensial sebanyak 4 milliar barrel yang tersebar dalam 60 Oil basins.
Dari 60 Oil basins tersebut, 22 belum ter-explorasi, sedangkan 38 sudah dieksplorasi secara extensive, dimana sebagian besar berada di belahan barat Indonesia. Diantara 38 Oil basins tadi, 15 sudah berproduksi gas dan minyak bumi, 11 belum berproduksi dan 12 belum terbukti.
Produksi Minyak (crude oil) Indonesia, yang memang kebanyakan berasal dari sumur-sumur tua, mengalami penurunan secara alami dari tahun ke tahun sebanyak 15% dari total produksi.
Namun dengan berbagai metode dalam upaya mengoptimalkan lapangan-lapangan yang ada seperti EOR, Steam Flood dan pengembangan lapangan-lapangan baru, maka penurunan tersebut dapat ditahan pada level 6.7% per tahun. Sehingga diharapkan target APBN dalam produksi Minyak Bumi Indonesia sebanyak 1.072.000 barrel per hari dapat dicapai.
Dengan demikian, jika tetap berproduksi sebanyak itu, maka dapatlah dihitung dalam waktu 10 tahun saja cadangan minyak terbukti kita akan habis. Anggaplah jika cadangan minyak potensial sebanyak 4 Milliar barrel tersebut ternyata memang ada, maka kita masih bisa punya waktu 10 tahun lagi untuk menikmati hasil Minyak Bumi kita.
Tapi mesti diingat, saat ini saja, tingkat konsumsi minyak kita per hari sudah sangat tinggi yaitu 1.084.000 barrel per hari, lebih tinggi dari produksi minyak bumi kita.
Meskipun demikian, Indonesia masih bisa meng-ekspor hasil minyak nya sebanyak 431.500 barrel per hari (data 2004), walaupun kemudian harus pula meng-import sebanyak 345.700 barrel per hari, sehingga Indonesia masih bisa disebut Net-Exporter sebanyak 85.800 barrel per hari atau total 31,3 Juta Barrel per tahun.
Kondisi ini jelas menunjukan trend penurunan jika dibandingkan pada tahun 1999, dimana Volume Net-Export Indonesia adalah 177,3 Juta barrel, tahun 2000 sebanyak 120,6 Juta Barrel, 69 Juta Barrel pada tahun 2001, dan 41,7 Juta barrel di tahun 2002.
Dengan melihat trend export/import diatas, maka para ahli berpendapat bahwa Indonesia bisa saja akan menjadi Net Importer, bukan lagi Net Exporter, dalam waktu kurang dari 10 tahun.
Apa artinya? Artinya Nilai Ekspor Minyak kita mulai kalah sama Nilai Import Minyak kita. Dan yang jelas, Minyak yang diimport dibeli dengan harga pasar International, sehingga pun ketika diolah menjadi Bahan Bakar Minyak, tentunya akan dijual dengan harga pasar International.
Hal ini lebih disebabkan karena pemerintah Indonesia diperkirakan akan terus menguran

Link:
Read more...